Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Pandangan Filsafat Terhadap Hukum


Filsafat hukum merupakan bagian penelusuran kebenaran yang tersaji dalam ruang lingkup filsafat. Filsafat adalah kegiatan berpikir secara sistematikal yang hanya dapat merasa puas menerima hasil-hasil yang timbul dari kegiatan berfikir itu sendiri. Filsafat tidak membatasi diri hanya pada gejala-gejala indrawi, fisikal, psikhikal atau kerohanian saja. Ia juga tidak hanya mempertanyakan “mengapa” dan “bagaimana”-nya gejala-gejala ini, melainkan juga landasan dari gejala-gejala itu yang lebih dalam, ciri-ciri khas dan hakikat mereka. Ia berupaya merefleksi hubungan teoritikal, yang di dalamnya gejala-gejala tersebut dimengerti atau dipikirkan.[1]

Senin, 11 Juni 2012

EKSISTENSIALISME

Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia. Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi menjadi kursi. Pohon mangga menjadi pohon mangga. Harimau menjadi harimau. Manusia menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan kursi, pohon mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti apakah semua itu sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah peran eksistensia.

Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan. Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan. Adapun tanpa eksistensia, segala sesuatu tidak nyata ada, apalagi hidup dan berperan.

Minggu, 10 Juni 2012

ABC dialektika materialis

oleh Leon Trotsky
Dialektika bukanlah fiksi dan bukan pula mistisisme, melainkan sebuah pengetahuan mengenai bentuk pemikiran kita sejauh ia tidak dibatasi ke dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari, tetapi berusaha mencapai sebuah pengertian yang lebih rumit dan proses-proses yang mendesak untuk diperbincangkan. Logika dialektika dan logika formal memikul sebuah hubungan yang serupa dengan hubungan antara matematika tingkat tinggi dengan matematika yang lebih rendah.
Di sini saya akan mencoba untuk membuat sketsa substansi masalah dalam sebuah format yang sangat ringkas. Silogisme sederhana logika Aristotelian bermula dari preposisi bahwa "A" sama dengan "A". Postulat ini diterima sebagai sebuah aksioma bagi banyak sekali tindakan praktis manusia dan generalisasi-generalisasi elementer. Tetapi pada kenyataannya "A" tidak sama dengan "A". Hal ini mudah untuk dibuktikan jika kita mengamati dua huruf ini di bawah sebuah lensa --satu sama lain sama sekali berbeda. Namun, orang dapat saja berkeberatan, karena mereka semata simbol bagi kuantitas-kuantitas sederajat, contohnya satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf itu.

Selasa, 05 Juni 2012

Logika Menentang Agama ?

 “Man tamanthaqa faqad fazandaqa” , demikian ungkapan terkenal dari tokoh besar di dunia Islam, Ibn Taimiyyah. Arti harfiahnya kira-kira adalah, Barang siapa menggunakan logika maka ia telah kafir.”  Apakah sikap seperti ini dapat dibenarkan? Ataukah memang mutlak salah? Apa implikasi jika sikap seperti ini dibenarkan? Dan apa pula konsekuensinya jika ia mutlak salah? Ataukah sikap seperti ini relatif, bisa benar sekaligus bisa salah secara bersamaan atau secara fuzzy ? Dan apa-kah konsekuensinya jika kebenaran sikap seperti ini  fuzzy atau relatif?

Jumat, 01 Juni 2012

Manusia Dan Binatang

Murtada Muthahhari
Manusia merupakan sebangsa binatang. Dia memiliki banyak kesamaan dengan binatang lainnya. Pada saat yang sama manusia memiliki banyak ciri yang membedakan dirinya dengan binatang lainnya, dan ciri-ciri ini menempatkannya lebih unggul daripada binatang. Ada ciri-ciri utama yang mendasar, yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sifat-sifat manusiawi manusia ditentukan oleh ciri-ciri ini. Ciri-ciri ini, yang juga menjadi sumber dari apa yang dikenal sebagai budaya manusia, berkaitan dengan dua hal. Yaitu, sikap dan kecenderungan.
Pada umumnya binatang memiliki kemampuan melihat dan mengenal dirinya sendiri dan dunia sekitarnya. Dan dengan berbekal pengetahuan yang didapat dari melihat dan mengenal ini, binatang berupaya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti binatang lainnya, manusia juga memiliki banyak keinginan. Dan dengan bekal pengetahuan dan pengertiannya, manusia berupaya mewujudkan keinginannya. Manusia berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Bedanya adalah manusia lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih tinggi tingkat keinginannya.

PENDEKATAN-PENDEKATAN FILSAFAT PENDIDIKAN

1.      Pengertian

Filsafat pendidikan sebagai filsafat terapan, yaitu studi tentang penterapan asas-asas pemikiran filsafat pada masalah-masalah pendidikan pada dasarnya mengenai dua pendekatan  yang polarities.

2.      Macam-macam Pendekatan Filsafat pendidikan

A.    PENDEKATAN PROGRESIF
Pendekatan dalam disiplin ilmu yang disebut filsafat pendidikan akan lebih mudah di pahami arti pengertian bila diajukan pandangan Dewey tentang  pokok masalah, yaitu tentang permasalahan filsafat pendidikan yang berarti hubungan antara filsafat dan pendidikan.[2]
Dapat dilihat dari :
1.      Antara Teori dan Praktek

Jumat, 25 Mei 2012

Teologi perubahan manusia


Sebuah pepatah bahwa sesuatu yang paling abadi di dunia adalah perubahan. Semuanya tidak ada yang bertahan statis, begitu pula manusia. Oleh karena itu, hanya perubahan itu sendirilah yang akan abadi.

Revolusi atau yang memiliki kedekatan arti dengan perubahan adalah hal biasa sering kita jumpai, sehingga revolusi adalah tema yang sudah tua untuk dibahas kembali. Namun, kali ini sedikit berbeda dengan revolusi yang sudah kita perbincangkan dahulu. Revolusi Sejarah Manusia adalah buku yang ditulis oleh Dr. Mundzir Hitami. Buku rintisan dari hasil disestasi beliu membuat isi kajiannya lebih mendalam untuk dinikmati para pembaca.

Kajian secara detil mengenai konsep

Rabu, 16 Mei 2012

Agama dan Ilmu (Einstein)



( Tulisan ini diambil dari tiga tulisan yang membahas tema "agama dan Ilmu" yang pertama ditulis New York Times Magazine 9 November 1930; yang kedua disampaikan pada princeton Theological Seminary, 19 Mei 1939; dan yang ketiga dimuat pada Science, Philosophi, and Religion: Sympisium yang diterbitkan pada 1941 oleh Comference on Scince, Philosophi, and Religion in Their Relation to The Democratic Way of Life Disini Sengaja diambil satu tulisan lengkap dan sebagian dari dua tulisan lainnya agar gagsan Einstain terungkap secara utuh, tetapi tidak ditumpang tindih diterjemahkan oleh Zainal Abidin dari Sonja Bargman (ed), Ideas and Opinions by Albert Einstein, Bonanza)

ESTETIKA

           Estetika merupakan bidang studi filsafat manusia yang mempersoalkan hal ihwal nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh.
            Bagi ilmu pengetahuan yang beraneka ragam itu, filsafat berfungsi sebagai pengingat kearah keseragaman dan kesatuan. Keanekaragaman ilmu pengetahuan yang berada secara terpisah-pisah antara satu dengan yang lain itu menjadi seragam dan tertata secara tertib dan harmonis dalam kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh di dalam obyek, metode dan teori filsafat.

Antara Filsafat dan 'Irfan

Wasiat sufi Imam Khomeini kepada anaknya
Anakku, klaim bahwa adalah mungkin untuk percaya pada fakta-fakta yang tidak berdasar bukti-bukti rasional tampak sulit dipercaya atau tak berdasar. tapi, orang mesti tahu bahwa ini adalah perkara keyakinan-batin. Dan Al-Quran telah mengisyaratkan hal ini seperti, dalam ayat-ayat mulia Surah Al-Takatsur (yakni sehubungan dengan penggunaan dua istilah -- yakni 'ilm al-yaqin dan 'ayn al-yaqin -- yang bisa difahami sebagai merujuk kepada, masing-masing, pengetahuan rasional dan keyakinan-batin tersebut--Ym).

Mari kita ambil contoh. Engkau tahu bahwa tubuh yang telah mati tak bisa bergerak dan bisa mencelekakan. Bahkan seekor lalat adalah lebih aktif ketimbang ribuan tubuh yang telah mati. Juga sudah pasti bahwa tubuh-tubuh yang telah mati itu tak akan hidup kembali hingga hari kebangkitan. Tapi, hanya sedikit orang yang bisa tidur nyenyak jika mereka harus tidur sendirian