Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

MENGAPA SOSIALISME?

Oleh Albert Einstein


Apakah pantas bagi seseorang yang bukan merupakan pakar di bidang persoalan sosial dan ekonomi mengemukakan pandangannya berkaitan dengan sosialisme? Karena berbagai alasan, saya yakin hal itu pantas saja dilakukan.
Pertama-tama marilah kita menganalisa pertanyaannya dari sudut pandang ilmu pengetahuan ilmiah. Terlihat memang tidak ada perbedaan metodologi yang esensial antara astronomi dan ekonomi: ilmuwan dari kedua disiplin ilmu itu mencoba untuk menemukan hukum-hukum umum yang dapat diterima sebagai sekelompok alasan yang dapat menjelaskan suatu fenomena dalam rangka untuk menghubungkan fenomena-fenomena tersebut dengan sejelas-jelasnya. Tapi pada kenyataannya beberapa perbedaan metodologi memang ada. Penemuan hukum-hukum umum dalam bidang ekonomi disulitkan oleh keadaan dimana pengamatan gejala-gejala ekonomi sering dipengaruhi oleh banyak faktor yang juga sangat sukar untuk dievaluasi secara terpisah. Selain itu, pengalaman yang telah terakumulasi sejak awal masa yang dikenal dengan periode ‘peradaban dari sejarah umat manusia’ telah banyak dipengaruhi dan dibatasi oleh sebab-sebab yang tidak bertujuan ekonomi semata. Contohnya, sebagian negara-negara besar dalam sejarah menunjukkan eksistensinya dengan menjajah. Para penjajah tersebut mengokohkan dirinya, baik secara hukum dan ekonomi, sebagai kelas yang istimewa pada negara yang dijajahnya. Mereka menetapkan secara sepihak monopoli kepemilikan tanah dan menunjuk seorang pemuka agama dari golongan mereka sendiri.

Selasa, 05 Juni 2012

Gagasan dalam perspektif estetika


Gagasan- gagasan cemerlang yang jika dikaitkan dengan sudut pandang estetika pastilah berkaitan dengan pencerapan-pencerapan makna yang dapat dituangkan ke dalam suatu hubungan interpersonal antara hasil karya cipta dengan para penikmatnya, sebut saja ketika suatu karya puisi diciptakan, atau bentuk ruang bangun dalam seni rupa, misalnya. Dalam kehadirannya yang sunyi beberapa hal memang masih terkandung di ranah hening pikiran si penciptanya dan media pikirannya sendiri yang merasakan hubungan kedekatan tersebut. 

Ketika suatu karya disajikan ke tengah masyarakat sebagai sasaran utama, kecuali hasil karya tersebut dibuat untuk konsumsi pribadi yang tidak memerlukan persepsi publik selain dari si empunya sebagai ‘peraji’ yang melahirkannya ke dunia ini, pikirannya memang yang mengandung semua itu, terlebih ketika berhadapan dengan dunia nyata. Justru seharusnya, dunia nyata itu, ia adalah media tempat tumbuh kembangnya gagasan yang memerlukan tempaan lebih dari sekedar tanah gembur dan subur untuk mencengkramkan akar-akar ide itu ke dalam pikiran dan cecapan para penikmatnya.

Sejarah Kerajaan Gowa



Menurut mitologi, sebelum kedatangan Tomanurung di tempat yang kemudian menjadi bagian dari wilayah kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang disebut Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang (gabungan/federasi). Sembilan pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada awalnya, kesembilan pemerintahan otonom ini hidup berdampingan dengan damai, namun, lama kelamaan, muncul perselisihan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan keperkasaan dan semangat ekspansi. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan otonom ini kemudian sepakat memilih seorang pemimpin di antara mereka yang diberi gelar Paccallaya. Ternyata rivalitas tidak berakhir dengan kesepakan ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi ketua Bate Selapang. Di samping itu, Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hingga suatu ketika, tersiar kabar bahwa di suatu tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit Tamalate, hadir seorang putri  yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang indah.

Minggu, 03 Juni 2012

Ketika Demokrasi mulai dipertanyakan


Kata Sahibul hikayat, perbedaan pendapat dan kekerasan itu sudah ada sejak umat manusia muasal bermula di dunia.

Alkisah, dua putera Adam sudah berbunuhan ketika alam baru saja tercipta. Dalam perbedaan pendapat, adakalanya pendapat sang wasis dan bijaksana yang diterima, tapi lebih sering pendapat pendekar sakti perkasalah yang menentukan dunia. Kekuatan dan kesaktian sangat sering lebih menentukan percaturan dunia dibanding kebijaksanaan dan moral yang dibawa para sufi dan pujangga.

Dalam masa kegelapan di Eropa, pendapat kaum Darwinian (The survival of the fittest), dan kaum Machiavelian (The ends Justify the the means) sangat disanjung puja oleh penguasa; dan `Power', sebagai kata kunci kemampuan untuk mempengaruhi kemauan dan tindakan orang lain (Morgenthou) adalah kesaktian yang sangat didamba baik oleh para bangsawan dan paderi gereja yang gila kuasa. Pada masa itu korban saling berjatuhan, baik karena guliotin sang algojo penguasa, maupun oleh tipu daya fitnah sang pemakan bangkai manusia, termasuk mereka yang sok merasa suci, si penguasa agama.

Jumat, 01 Juni 2012

Social Engineering (Rekayasa Sosial)


Dalam dunia pemaknaan, engineering akan lebih dikenal sebagai sebuah diksi dari dunia sains dan teknologi. Istilah mengacu kepada suatu proses rancang bangun yang disengaja dan direncanakan dengan cara dan teknik tertentu untuk mendapatkan sebuah hasil (berupa produk maupun karya) yang diinginkan.

Dalam konteks sosial, pemakaian istilah engineering pernah disosialisasikan misalnya oleh Jalaludin Rahmat dalam bukunya Rekayasa Sosial, Reformasi atau Revolusi. Dalam buku ini engineering diartika sebagai sebuah rekayasa. Dalam konteks sosial ini engineering bisa dimaknai sebagai sebuah proses perancangan kondisi social seperti yang diinginkan (das sollen). Misi dalam proses ini jelas yaitu wujudnya kondisi sosial yang diharapkan. Keinginan untuk merancang kondisi sosial ini muncul ketika kondisi faktual (das sein) berjalan tidak seperti apa yang diharapkan. Atau dalam kata lain terdapat gap antara kondisi yang diinginkan (das sollen) dengan kondisi faktual (das sen). Dengan kondisi ini maka sebuah proses engineering dalam konteks sosial (yang bisa disebut juga sebagai social engineering) bisa disebut sebagai bagian dari disiplin aktifitas perubahan sosial.

Sabtu, 19 Mei 2012

CONTOH SURAT LAMARAN KERJA


                    MAKASSAR, 25 MEI  2010

                                                KEPADA YTH. KEPALA
                                                PT. KARYA PRIMA
                                                CABANG MAKASSAR
                                                DI-
                        TEMPAT

PERIHAL : PERMOHONAN KERJA

DENGAN HORMAT,
SAYA YANG BERTANDA TANGAN DIBAWAH INI :

1.     NAMA                                       : SUFRIAMAN AMIR, SH
2.     TEMPAT/ TANGGAL LAHIR        : TORASSI, 24 SEPTEMBER 1990
3.     JENIS KELAMIN                        : LAKI- LAKI
4.     AGAMA                                    : ISLAM
5.     PENDIDIKAN TERTINGGI          : S1 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAKASSAR
6.     ALAMAT                                   : JL. LANDAK BARU NO 23 MAKASSAR
7.     NO. HP.                                    : 085 340 158 180

Rabu, 16 Mei 2012

Teori Sipakatau dalam Wacana Budaya (LONTARA LA GALIGO)


Masyarakat dituntut berperan aktif sebagai pembaharu terhadap produksi budaya, yang mampu membangun proposisi kultural dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Kemudian diasumsikan bahwa pilihan bahasa dan proposisinya membentuk suatu konstruk sosial. Bahasa, Ideologi dan kekuasaan yang disebut wacana kritis sebagai suatu pendekatan interdisipliner terhadap suatu kajian produk budaya. Pandangan kritis pada perilaku bahasa yang ada relevansinya dengan rutinitas sosial mengenai ketidakadilan atau terjadinya penindasan pada suatu komunitas atas komunitas yang lain. Suatu teks tidak hanya dipahami dari isi teks itu sendiri, tetapi perlu diperhatikan latar belakang yang memproduksi teks budaya tersebut. 

Enam buah tanya jawab mengenai Globalisasi

Diterjemahkan dari leaflet Spanish Students Union (SE) tentang Gerakan Melawan Kapitalis Global edisi bahasa Inggris pada http://www.marxist.com/

1.Apakah Globalisasi ? 
Globalisasi adalah perluasan hubungan ekonomi diantara negara–negara yang berbeda dalam membuat sebuah tatanan ekonomi dunia yang didalamnya terdapat ketergantungan satu sama lain di setiap bidang perekonomian nasionalnya. Tidak ada negara yang sanggup mencukupi kebutuhannya sendiri, mereka seluruhnya saling membutuhkan dalam bertukar hasil–hasil produksinya. Peningkatan dari sebuah integrasi ekonomi dunia tidak memerlukan sebuah alasan yang negatif didalamnya, hal ini menjadikan peletakan dasar bagi perencanaan ekonomi internasional dalam sebuah jalan yang harmonis sebagai sebuah kemungkinan yang besar. Di bawah sebuah sistem perekonomian yang berdasarkan keadilan sosial dan kepemilikan alat–alat produksi bersama (pabrik–pabrik, teknologi dan modal) integrasi ekonomi dunia akan meletakan langkah lebih maju bagi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun integrasi ekonomi dunia tersebut berada dibawah sistem kapitalis yang berdasarkan pada kepemilikan produksi pribadi dan pencarian keuntungan yang setinggi–tingginya bagi setiap kapitalis orang–per–orang. Hal ini lah yang menjadikan perkembangan yang diharapkan menjadi tidak mungkin dan hanya membuat sebuah situasi dimana minoritas kecil menjadi sangat kaya raya sementara mayoritas penduduk di bumi memandang diri mereka hidup jauh dibawah standar.

Sejarah Perkembangan Teori Ekonomi


Sejarah Perkembangan Teori Ekonomi adalah suatu pemikiran kapitalisme yang terlebih dahulu yang harus dilacak melalui sejarah perkembangan pemikiran ekonomi dari era Yunani kuno sampai era sekarang. Aristoteles adalah yang pertama kali memikirkan tentang transaksi ekonomi dan membedakan diantaranya antara yang bersifat "natural" atau "unnatural". Transaksi natural terkait dengan pemuasan kebutuhan dan pengumpulan kekayaan yang terbatasi jumlahnya oleh tujuan yang dikehendakinya. Transaksi un-natural bertujuan pada pengumpulan kekayaan yang secara potensial tak terbatas. Dia menjelaskan bahwa kekayaan un-natural tak berbatas karena dia menjadi akhir dari dirinya sendiri ketimbang sebagai sarana menuju akhir yang lain yaitu pemenuhan kebutuhan. Contoh dati transaksi ini disebutkan adalah perdagangan moneter dan retail yang dia ejek sebagai "unnatural" dan bahkan tidak bermoral. Pandangannya ini kelak akan banyak dipuji oleh para penulis Kristen di Abad Pertengahan.

RETORIKA DAN PEREMPUAN


Tradisi retorik dalam dunia patriarkal menunjukkan bahwa retorika di depan publik pada mulanya hanyalah dilakukan oleh laki-laki. Aristoteles, seorang folosof sebelum abad Masehi misalnya, sangat menekankan perlunya studi retorika bagi laki-laki. Studi retorika, menurut Aristoteles pada dasarnya adalah cara mengemukakan pendapat di depan umum secara persuasif. Oleh sebab itu retorik juga dikaitkan dengan debat karena dalam beretorik orang harus mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran yang diyakininya. Orang tersebut juga harus bisa menunjukkan keunggulan dirinya dan gagasan-gagasannya dibandingkan orang lain. Karena sifatnya yang persuasif dan agresif retorik dinilai lebih tepat dikerjakan oleh orang laki-laki dan memang hanya diajarkan pada orang laki saja.