Islam dimulai dengan ajaran Muhammad saw., di
tempat kelahirannya Mekkah; sifat-sifat yang menjadi ciri agama baru ini
dikembangkan setelah beliau pindah ke Madinah dalam tahun 622 M. Sebelumnya
beliau wafat sepuluh tahun kemudian, telah jelaslah sudah bahwa Islam bukannya
semata-mata merupakan suatu badan kepercayaan agama pribadi, akan tetapi Islam
meliputi pembinaan suatu masyarakat merdeka, dengan sistem sendiri tentang
pemerintahan, hukum, dan Lembaga Generasi Muslimin pertama, telah menginsafi
bahwa Hijrah adalah satu titik perubahan penting dalam sejarah. Merekalah yang
menetapkan tahun 622 M sebagai permulaan takwin Islam baru.
Dengan pemerintah yang kuat, cerdas, dan satu
kepercayaan yang menggelorakan semangat penganut-penganut dan tentara-tentara
dalam waktu yang tidak
lama, masyarakat baru ini menguasai seluruh Arabia Barat
dan mencari dunia baru untuk ditundukkan.
Setelah sedikit kemunduran pada wafat Muhammad
saw., gelombang penaklukan bergerak dengan cepat di Arabia bagian Utara dan
Timur, berani menyerang kubu-kubu pertahanan di perbatasan kerajaan Romawi
Timur di Syirq al-Ardun dan kerajaan Persia di Irak. Selatan. Angkatan-angkatan
perang kedua kerajaan raksasa ini –karena perang tidak henti-hentinya– telah
kehabisan kekuatan, dikalahkan satu-persatu dalam suatu rangkaian operasi cepat
dan cemerlang. Dalam waktu enam tahun sesudah Muhammad saw. wafat, seluruh
Siria dan Irak diharuskan membayar upeti kepada Madinah, dan empat tahun
kemudian Mesir digabungkan pada kerajaan Islam baru.
Kemenangan-kemenangan yang mengagumkan tadi,
mendahului kemenangan yang lebih besar lagi akan membawa orang Arab dalam waktu
kurang dari satu abad ke Maroko, Spanyol, Perancis, pintu-pintu kota
Konstantinopel, jauh ke Asia Tengah sampai ke Sungai Indus, membuktikan sifat
Islam sebagai suatu kepercayaan kuat, insaf akan harga diri, dan jaya. Sifat
ini mengakibatkan pendirian yang tidak kenal menyerah dan memusuhi segala yang
ada diluarnya, tetapi menunjukkan toleransi, kesabaran hati yang luas dalam
pelbagai masyarakat, keseganan menuntut orang dari golongan lain, dan kebesaran
hati mereka dalam waktu kegelapan.
Pada tahun 660 M. ibu kota Kerajaan Arab
dipindahkan ke Damsyik, tempat kedudukan baru Khalifah Bani Umayah. Sedangkan Madinah
tetap merupakan pusat pelajaran agama Islam; pemerintah dan kehidupan umum
kerajaan dipengaruhi oleh adat-istiadat Yunani Rumawi Timur. Tingkat pertama
saling pengaruh-mempengaruhi dengan peradaban yang lebih tua ini tidak hanya
dilambangkan dengan dua buah monumen, yang indah sekali dari zaman Bani Umayahh
ialah Mesjid Raya di Damsyik dan Mesjid Al-Aqsa di Darusalam, akan tetapi
kemunculan tiba-tiba cara aliran-aliran baru dan pendapat yang berlawanan
dengan paham resmi di “propinsi-propinsi baru.” Akibat paling akhir dari
pertumbuhan demikian ialah perpecahan antara lembaga-lembaga agama dan duniawi
dalam masyarakat Islam. Pembelahan ini merusakkan azas duniawi Bani Umayah, dan
ditambah dengan rasa ketidakpuasan para warga negara bukan Arab, dan pecah
perang saudara diantara suku, Arab, menyebabkan jatuhnya tahun 750 M.
Dalam pada itu, perselisihan tadi menjelaskan
bahwa dalam abad yang lampau sejak wafat Muhammad saw. kebudayaan agama Islam
telah mengalami perkembangan dan konsolidasi yang luar biasa, baik, di dalam
maupun di luar Arabia. Seorang guru agama di satu pihak menunjukkan
perkembangan kebatinan pada tingkat tertinggi. Ia menyatakan inti sari yang
penting dan menghidupkan itu dengan kepribadiannya dan keyakinannya sehingga
tampak pada penganutnya sebagai wahyu kebenaran baru..
Itulah sumbangan asasi yang menentukan dari orang
Arab terhadap kebudayaan Islam baru. Terhadap peradaban materiil sokongan
mereka sedikit. Kemajuan materiil baru mulai; dengan cemerlang setelah Bani
Abbas menggantikan Bani Umayah sebagai khalifah, dan mendirikan ibu kotanya
yang baru di Baghdad dalam tahun 762 M. Masa pertama dari penaklukan wilayah
luar Arabia telah lampau, disusul oleh masa perluasan ke dalam. Abad kesembilan
dan kesepuluh Masehi menyaksikan puncak kemajuan peradaban Islam yang luas dan
usaha-usaha yang berhasil. Kerajinan, perdagangan, kesenian bangunan, dan
beberapa kesenian yang kurang penting, berkembang dengan subur waktu Persia,
Mesopotamia, Siria, dan Mesir, memberikan sokongan mereka dalam usaha serentak.
Kegiatan-kegiatan baru ini menumbuhkan kehidupan
intelektual. Sedang ilmu pengetahuan agama berkembang pada beberapa pusat baru
terbesar dari Samarqand sampai ke Afrika Utara dan Spanyol, kesusasteraan dan
pikiran dengan menggunakan sumber-sumber Yunani, Persia, dan juga India,
melebar ke jurusan baru, seringkali bebas dari tradisi Islam dan banyak
sedikitnya memberontak terhadap kepicikan dan kesempatan sistem kuno. Dengan
dorongan perluasan kaki langit alamiah, kecerdasan pikiran, keduniawian, dan
kerohanian, saling pengaruh mempengaruhi dengan hebatnya.
Sukarlah untuk menyatakan dengan singkat
usaha-usaha bidang intelektual yang bermacam-macam dalam zaman tersebut. “Ilmu
pengetahuan Islam” yang lain seperti sejarah dan ilmu bahasa, melebar hingga
meliputi sejarah duniawi dan kesusasteraan. Ilmu kedokteran dan ilmu pasti
Yunani disediakan dalam perpustakaan buku-buku terjemahan dan dikembangkan oleh
sarjana Persia dan Arab, khusus ilmu Aljabar, ilmu ukur segitiga, dan ilmu
optik (penglihatan). Ilmu bumi –barangkali yang boleh diumpamakan barometer
kebudayaan yang paling cermat– berkembang pada seluruh cabangnya, di bidang
politik, organik, matematik, astronomik, ilmu alam, dan pesiar, meluas demikian
jauh hingga meliputi negara-negara dan peradaban bangsa yang jauh letak
kediamannya.
Ilmu pengetahuan baru tersebut, boleh dikatakan
hanya mengenai jumbai-jumbai, pinggiran kebudayaan agama, pemasukan ilmu
mantik, dan filsafat Yunani, mau tidak mau menumbuhkan perselisihan paham yang
tajam dan pahit. Pertikaian ini memuncak dalam abad ketiga. Para pemimpin Islam
melihat dasar-dasar kerohanian dibahayakan oleh keingkaran halus dan cerdik
paham rasionalisme murni. Walaupun mereka akhirnya mengalahkan pelajaran yang
berpengaruh Yunani, ilmu filsafat selalu tetap harus dicurigai dalam pandangan
para alim ulama, biarpun ilmu tadi hanya dipelajari sebagai alat perbantahan
dan pembahasan. Lebih berbahaya ialah akibat kemenangan yaitu pertumbuhan dalam
kalangan ahli agama, semacam perasaan iri hati terhadap usaha para intelektual
yang bercorak murni keduniawian ataupun yang memberanikan diri ke luar dari
bidang pengawasan mereka.
Selain keutamaan segi intelektual dan fungsi
dalam pelajaran, syariat ialah alat yang paling luas pengaruhnya dan paling
tepat membentuk ketertiban sosial dan kehidupan masyarakat bagi bangsa-bangsa
Islam. Oleh karena lengkapnya, maka syariat memberi tekanan yang tidak hentinya
pada segala kegiatan pribadi dan sosial, dan mewujudkan suatu ukuran-baku yang
harus dianut lebih lama, meskipun ada rintangan kebiasaan kuno dan
adat-istiadat yang telah berlaku lama. Khusus suku nomad dan suku yang diam di
pegunungan, berlawanan. Tambahan pula, syariat memberikan pernyataan praktis
dalam memperjuangkan persatuan yang menjadi ciri Islam. Hukum tadi dalam segala
pokok yang penting adalah seragam, walaupun pelbagai mazhab berbeda dalam
beberapa pasal kecil. Pertumbuhan ini disebabkan karena cita-cita sosial dan
cara hidup di seluruh dunia Islam dalam abad pertengahan menuju arah yang sama.
Syariat lebih dalam mempengaruhi kehidupan hukum Rumawi; karena memiliki
landasan agama dan ancaman hukuman Tuhan, maka syariat adalah pengatur rohani
merupakan suara hati umat Islam dalam semua segi dan kegiatan kehidupannya.
Tugas hukum syariat ini bertambah besar artinya
waktu kehidupan politik dunia Islam lebih lama menyimpang dari keinginan
Muhammad saw. dan pengganti-pengganti beliau yaitu pemerintahan berdasarkan
ketuhanan. Keruntuhan khalifah Bani Abbas dalam abad kesembilan dan kesepuluh
Masehi membuka pintu tidak hanya bagi kehancuran politik, tetapi juga bagi
perebutan kekuasaan kerajaan oleh pangeran-pangeran setempat dan gubernur
militer, terbit dan tenggelamnya kerajaan-kerajaan yang berumur pendek, dan
berkobarlah perang saudara. Bagaimanapun hebatnya kekuatan politik dan militer
kerajaan Islam itu telah dilemahkan, gengsi moral hukum syariat lebih dijunjung
dan dapat mengutuhkan serta mengukuhkan bentuk sosial Islam sepanjang pasang
surut nasib politik Islam.
Pada akhir, abad kesepuluh Masehi, daerah Islam
sedikit lebih luas dibandingkan pada tahun 750. Semenjak diciptakan suatu
peradaban besar, memuncak kehidupan intelektual, kaya dan cerdas dalam bidang
ekonomi, dipersatukan dengan kukuh oleh syariat yang dihormati; seluruhnya
merupakan penjelmaan kekuasaan Islam rohani dan duniawi. Waktu kekuatan
militernya berkurang, maka sebagaimana juga. terjadi dengan kerajaan Rumawi
enam abad sebelumnya, kerajaan Islam berangsur-angsur dikuasai oleh
bangsa-bangsa biadab dari luar perbatasannya; dan juga seperti kerajaan Rumawi,
mengenakan pada bangsa biadab tadi agamanya, hukumnya, dan penghormatan
terhadap peradabannya.
Bangsa-bangsa biadab itu ialah Turki yang berasal
dari Asia Tengah. Tekanan ke arah Barat membawa orang Bulgar, Magiar, Kumari,
Pecineg ke Rusia Selatan dan Eropa Timur, mendatangkan suku-suku lain ke Iran
dan lebih ke Barat, ke Irak, dan Anatolia. Pekerjaan pengislaman telah
dilakukan, waktu mereka masih diam di tempat asalnya di Asia Tengah; oleh
karena itu, kerajaan Sultan Turki yang didirikan di Asia Barat mula-mula hanya
membawakan sedikit perubahan yang tampak ke luar dalam kehidupan rumah tangga
umat Islam. Akibat pertama adalah perluasan militer; ke arah Tenggara menuju
India Utara, ke arah Barat Laut menuju Asia Kecil. Pada waktu yang sama, jauh
di sebelah Barat, suku Berber nomad telah membawa Islam, ke tepi dunia Afrika
Negro di daerah lembah Senegal dan Niger sedang buku-buku Arab nomad yang tidak
diawasi lagi oleh kekuasaan khalifah yang terdahulu telah merusakkan dan
melengahkan pusat peradaban yang telah didirikan oleh bangsanya sendiri sebelum
di atas puing runtuhan Afrika Romawi dan Bizantium.
.Mulai abad kesebelas Masehi, ilmu Sufi
mengerahkan kebaktian sebagian besar kegiatan kerohanian umat Islam, dan
mendirikan suatu sumber pembaharuan kepribadian yang sanggup mempertahankan
tenaga kebatinan selama abad-abad sesudahnya penuh dengan kemerosotan politik
dan perekonomian.
Para ahli Sufi, baik sebagai penyiar perseorangan
maupun (di kemudian hari) sebagai anggota dalam gabungan tarekat merupakan
pemimpin dalam tugas mengislamkan orang penyembah berhala, yang tidak beragama,
dan suku yang hanya tipis sekali pengislamannya. Penyebaran agama berhasil
ialah terbanyak oleh kawan sebangsa sendiri dari suku-suku tersebut yang
biasanya kikuk, buta huruf, dan kasar. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar
yang memungkinkan generasi kemudian menerima keadaban hukum syariat dan tauhid
yang lebih halus. Berkat pekerjaan mereka, maka dalam abad-abad berikutnya,
batas-batas daerah Islam dapat diperluas di Afrika, India, dan Indonesia,
melintangi Asia Tengah ke Turkestan dan Tiongkok, dan di beberapa bagian Eropa
Tenggara
.
Perkembangan yang digambarkan di muka tadi
dipercepat oleh malapetaka yang berturut-turut terjadi di Asia Barat dalam abad
ketiga belas dan keempat belas. Penyerbuan pertama kaum Mongol penyembah
berhala, membumihanguskan propinsi-propinsi bagian Timur Laut antara 1220 dan
1225 M. Gelombang kedua yang menduduki Persia dan Irak menamatkan khalifah
Baghdad yang bersejarah dalam 1258 M, dan memaksakan seluruh dunia Islam Timur,
terkecuali Mesir, Arabia, dan Siria, membayar upeti kepada kerajaan Mongol yang
besar. Sisa-sisanya diselamatkan oleh golongan militer terdiri dari “budak
belian” Turki dan Kipcak, kaum Mamluk, yang telah merebut kekuasaan politik di
Mesir.
Di bawah pemerintahan Mamluk, peradaban Islam
yang lama langsung berkembang lebih kurang dua setengah abad dalam bidang
kesenian benda (istimewa dalam lapangan seni bangunan dan seni-kerajinan
logam), tetapi disertai kemunduran daya kerohanian dan intelek.
Pada waktu yang sama, di daerah-daerah kekuasaan
Mongol hidup kembali suatu peradaban Islam Persia yang cemerlang pada beberapa
segi. Terutama dalam seni bina dan kesenian halus, termasuk seni lukis dalam
bentuk yang sangat kecil (miniatur); kebudayaan tersebut berakar dalam
kerohanian Sufi. Meskipun kedatangan dua kali “Maut Hitam” dan mengalami
serbuan Timur Lenk dalam abad keempat belas yang menghancurleburkan Persia,
namun kebudayaan Persia mampu memberikan ragam kepada kehidupan intelektual
dari kerajaan-kerajaan Islam baru, –yang dilahirkan pada kedua sisinya– di
Anatolia, Balkan, dan India.
Perluasan kerajaan Dinasti Osman di Asia dan
Afrika Utara serta pembentukan kerajaan Mughal di India dalam abad keenam belas
membawa sebagian besar dunia Islam kebawah pengawasan pemerintahan negara
keduniawian yang kuat, memusatkan kekuasaannya yang besar. Ciri khas kedua
kerajaan tadi ialah menitikberatkan pada pandangan ahli sunah waljamaah dan
hukum syariat. Urusan agama dan urusan ketatanegaraan tidak dipersatukan karena
kebijaksanaan militer dan sipil disusun menurut garis tidak Islam yang bebas,
tetapi dapat saling menyokong akibat suatu persetujuan yang berlangsung hingga
abad kesembilan belas.
Diantara dua saluran kehidupan agama Islam
tersebut, saluran Sufilah yang lebih lebar dan dalam. Abad ketujuh belas dan
permulaan abad kedelapan belas menyaksikan puncak tertinggi tarekat Sufi.
Tarekat-tarekat besar menyebarkan suatu jalinan perhimpunan-perhimpunan dari
mula hingga akhir dunia Islam, sedang perkumpulan-perkumpulan setempat dan
cabang-cabangnya menggabungkan anggota pelbagai golongan dan kejuruan jadi umat
yang bersatu padu. Selain itu, kebudayaan Islam dalam dua kerajaan tersebut
yang hanya hidup atas warisan zaman silam, dapat memelihara, akan tetapi jarang
dapat menambah kekayaan warisan intelektual tersebut. Tokoh-tokohnya
berpendapat bahwa kewajibannya pertama ialah bukan hanya memperluas, akan
tetapi memelihara, menyatukan, dan menyesuaikan kehidupan sosial atas sendi-sendi
nilai Islam. Dalam batas-batas tersebut kadar persatuan yang telah mereka
capai, dan ketertiban sosial yang dapat dilangsungkan memang menarik perhatian.
Persatuan itu merupakan suatu kekecualian yang
menyolok mata. Dalam permulaan abad keenam belas, suatu kerajaan baru yang
disokong oleh suku Turki dan Adzerbaijan menaklukan Persia dan menghidupkan
kembali Syiah yang telah mengalami kemunduran, dan meresmikan Syiah sebagai
agama resmi Persia. Selama peperangan dengan Dinasti Osman, orang Turki dari
Asia Tengah, dan orang Mughal, yang semuanya ahli sunah waljamaah, Syiah
dijadikan ciri perasaan nasional Persia. Akibat perpecahan antara Persia dan
tetangganya penting buat semuanya. Umat Islam selanjutnya dipecah menjadi dua
golongan yang terpisah, dan hubungan kebudayaan antara dua golongan tadi, sejak
itu meskipun tidak diputuskan seluruhnya hanya dapat dilakukan serba sedikit
saja. Persia terpaksa terpencil dalam urusan politik dan agamanya mencukupi
kebutuhannya sendiri, yang akhirnya memiskinkan kehidupan rohani dan budaya
mereka. Lebih-lebih pula waktu kekuatan politiknya mundur, orang suku Afghan
dalam abad kedelapan belas melepaskan hubungan dan mendirikan suatu negara
sunah merdeka.
Di Afrika Barat Daya adanya perasaan kesukuan
diantara kedua pihak, orang Arab dan Berber, menukarkan kegiatan kebudayaan.
Aliran ortodoks dan tarekat Sufi, keduanya dipengaruhi pemujaan orang-orang
suci, wali yang masih hidup setempat (”marabout”). Di Tunisia dan di beberapa
kota lain, sebagian warisan kebudayaan Spanyol Arab tetap dilanjutkan, bahkan
waktu Tunisia dan Aljazair merupakan wilayah bajak laut, setengah jajahan
kerajaan Dinasti Osman. Di Maroko di bawah sultan-sultan (yang dapat
menyelamatkan kedaulatannya hingga 1912), bahkan di Sahara Barat di bawah
kepala suku-suku yang lebih kecil, pelajaran ahli sunah yang lazim dilanjutkan,
dan diperkuat oleh pengaruh yang datang dari daerah Timur.
Di kepulauan Melayu sendiri, Islam telah beroleh
tumpuan di Sumatera dan Jawa, oleh pedagang-pedagang dalam abad ketiga belas dan
keempat belas. Agama Islam lambat laun membiak, sebagian hasil tindakan
panglima militer, tetapi lebih cepat dengan jalan perembesan damai, khusus di
Jawa. Dari Sumatera, Islam dibawa oleh para perantau ke Semenanjung Malaya;
juga dari Pulau Jawa ke Maluku. Sejak itu agama tersebut mendapat kedudukan
yang lebih kuat di seluruh kepulauan di bagian Timur hingga ke Pulau Sulu,
Mindanao, dan Filipina.
Penyebaran Islam di Tiongkok hingga kini masih
terselubung dalam kegelapan. Kelompok muslimin dalam jumlah agak besar, yang
pertama menetap di sana –barangkali dalam zaman kerajaan Mongol– dalam abad
ketiga belas dan keempat belas. Jumlahnya bertambah besar di bawah pemerintah
Mancu, biarpun ada perasaan permusuhan setempat karena pemberontakan
(kadang-kadang hebat) yang dilakukan oleh kaum muslimin. Tetapi, hingga kini
tidak mungkin menaksirkan jumlahnya.
Hasil bersih dari perluasan selama tiga belas
abad ialah Islam sekarang merupakan agama yang terutama dalam lingkungan daerah
luas yang meliputi Afrika Utara, Asia Barat, hingga bukit Pamir, kemudian ke
Timur meliputi Asia Tengah hingga
Tiongkok, dan ke Selatan ke Pakistan. Di India
hanya tinggal sepersepuluh penduduk yang beragama Islam. Di Semenanjung Malaya,
Islam unggul lagi melewati Indonesia hingga berakhir di Filipina. Di pantai
Barat Lautan India, Islam memanjang ke selatan sebagai lajur yang sempit dari
pantai Afrika hingga Zanzibar dan Tanganyika dengan beberapa kelompok hingga
masuk ke Uni Afrika Selatan. Di Eropa, kelompok-kelompok muslimin terdapat di
sebagian besar negara Balkan dan Rusia Selatan. Di Amerika Utara dan Amerika
Selatan, Islam diwakili oleh kelompok imigran dari Timur Tengah.
Semua agama besar di dunia, maka Islam
–sebelumnya perluasan kegiatan misi Kristen dalam abad kesembilan belas–
meliputi jumlah bangsa yang terbanyak. Asal mulanya di tengah-tengah orang Arab
dan bangsa Semit lain, kemudian Islam berkembang diantara orang Iran, Kaukasus,
orang kulit putih Laut Tengah, Slavia, Turki, Tartar, Tionghoa, India,
Indonesia, Bantu, dan Negro dari Afrika Barat. Jumlah terbesar sekarang ialah
muslimin dari Pakistan dan India sebanyak 100.000.000.
Disusul oleh orang Melayu dan Indonesia sebanyak
70.000.000. Orang Arab dan bangsa-bangsa yang berbahasa Arab menyusul dekat
dengan 20.000.000. Muslimin di Asia Barat, 24.000.000, Afghanistan kira-kira
12.000.000, dan Turki (walaupun Islam bukan agama resmi, masih tetap merupakan
agama rakyat) 20.000.000. Jumlah masyarakat Islam di daerah Asia, Uni Sovyet,
di Turkestan Tiongkok, dan di Tiongkok sendiri sukar ditaksir, tetapi jumlahnya
sekurang-kurangnya 30.000.000. Jumlah muslimin di Afrika Negro dan Afrika Timur
hanya dapat ditaksir dengan kasar 24.000.000. Akhirnya, kaum muslimin di Balkan
dan di Rusia Selatan berjumlah kurang lebih 3.000.000. Oleh karena itu, Islam
dapat menuntut memiliki penganut 350.000.000, atau kira-kira sepertujuh dari
taksiran seluruh jumlah penduduk dunia
Islam di Amerika Serikat Tiap Hari
Bertambah Satu Mualaf
”Alhamdulillah kondisi umat Islam di Amerika
Serikat baik-baik saja. Umat Islam terus bertambah banyak di Amerika Serikat,
baik sebelum maupun sebelum peristiwa 11 September,” kata Mohammad Kudaimi,
angota Nawawi Fondation, sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Chicago,
Amerika Serikat. Ia bertutur kepada Republika di sela-sela kunjungannya ke
Pesantren Khusus Yatim As-Syafi’iyah, Jatiwaringin Bekasi, Jawa Barat, awal
bulan ini.
Pria keturunan Syria yang sudah menetap di AS
selama lebih dari 25 tahun itu kini menjadi warga negara AS. Lima tahun
belakangan ini, ia aktif di yayasan itu. Mengutip sebuah koran yang terbit di
AS, ia menyebut Islam merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di
Amerika Serikat. bahkan, ia sedikit meralat redaksional tulisan itu. ”Mestinya
juga ditambahkan, setiap harinya di AS, selalu ada warga negara Amerika yang
memeluk Islam,” ujarnya.
Apa yang diungkapkannya, kata dia, adalah fakta
sesungguhnya yang terjadi di AS. Lembaganya turut membantu para mualaf
mengikrarkan syahadat dan membantu mereka memahami Islam dengan lebih baik.
Bagi Kudaimi, sulit untuk memahami fenomena kontradiktif ini.
Artikel Terkait..:
Agama
- Informasi Mengenai Peristiwa Masa Depan Dalam Al-Quran
- Keajaiban dari Setetes Mani
- Lapisan-Lapisan Atmosfer dalam Al-Quran
- Geologi dan Asal Usul Bumi
- Generasi - Generasi Masa Lampau
- Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?
- Hukum Musik dan Nyanyian ???
- Penjelasan Tentang Rukun Islam
- puasa dan kegunaannya
- FIQH DAN USHUL FIQH (suatu pengantar)
- MENGAPA KITA BERAGAMA ?
- Lihatlah Alquran dalam konteks sejarahnya!
- Ali Syari’ati : Islam Agama Pembebasan
- TATA CARA KHUTBAH JUMAT
- Puasa
- Kisah Masuk Islamnya Seorang Dokter Amerika Karena Satu Ayat Al-Qur’an
- Beberapa Rahasia Al-Quran
- Khutbah Jum'at Persyaratan KKN (Sebab - Sebab Lapangnya Hati)
- Aliran Syiah