Minggu, 12 Agustus 2012

Tinjauan Umum Terhadap Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Basil Micobacterium tuberculosis tipe humanus, sejenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-3/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin. Hal ini terjadi karena kuman dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif lagi. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman ini lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya, dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya sehingga apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit TB Paru (Amin, 1989).

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi penting saluran napas setelah eradikasi penyakit malaria. Basil M.tuberculosis tersebut masuk ke dalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (Ghon), selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (Ranke). Keduanya dinamakan Tuberkulosis Primer yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan (Amin, 1989).
Tuberkulosis primer merupakan peradangan yang terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap Basil Micobacterium tuberculosis yang kebanyakan didapatkan pada anak usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut Tuberkulosis Post Primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap Basil Micobacterium tuberculosis tersebut. Secara epidemiologi terdapat 10-12 penderita yang mempunyai kemampuan menularkan, dengan angka kematian 3 juta penderita tiap tahun, dan keadaan tersebut 75% terdapat di negara-negara berkembang dengan sosail ekonomi yang rendah. Di Indonesia merupakan penyakit nomor satu dan penyebab kematian nomor tiga (Depkes, 2002).
  1. Patogenesis
a.       Infeksi primer.
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman tuberkulosis. Droplet yang terhirup sangat kecil, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosiliaer bronkus dan terus berjalan hingga sampai di alveolus dan menetap di sana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman tuberkulosis ke saluran limfe di sekitar hilus paru dan ini disebut sebagai komplek primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan komplek primer adalah 4-6 minggu. Adanya  infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada waktu reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman tuberkulosis. Meskipun demikian ada beberapa kuman yang menetap sebagai kuman persisten atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi penderita tuberkulosis.
b.      Tuberkulosis pasca primer.
Tuberkulosis pasca primer  biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.
  1. Gejala.
Pada stadium dini, penyakit tuberkulosis tidak menunjukkan adanya tanda dan gejala yang khas. Biasnya keluhan yang muncul dapat berupa gejala umum seperti suhu tubuh meningkat timbul hilang berkisar 40-410C, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas, badan terasa lelah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun serta gejala-gejala khusus seperti batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih, batuk lama dengan dahak bercampur darah (batuk ini terjadi karena adanya iritasi pada bronkus dengan mengeluarkan produksi radang), nyeri dada (hal ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis), sesak napas (terjadi bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru), pembesaran kelenjar getah bening di leher yang sakit bila diraba, nyeri tulang, gangguan pencernaan kronis disertai penurunan berat badan, timbul panas tinggi yang biasanya disertai dengan kejang pada anak (Aditama, 1996).
Gejala-gejala tersebut di atas dapat pula ditemukan pada penyakit paru selain tuberkulosis maupun penyakit lainnya, sehingga seringkali sering gejala tuberkulosis yang tidak khas tersebut dikatakan sebagai the great imitator. Dengan demikian setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut di atas, harus dianggap sebagai seorang suspek tuberkulosis dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung (Brunner & Suddarth, 2002).
  1. Klasifikasi penyakit dan tipe penderita.
Penentuan kalsifikasi dan tipe penderita tuberkulosis memerlukan suatu defenisi kasus yang memberikan batasan baku setiap klasifikasi dan tipe penderita. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan defenisi kasus yaitu  organ tubuh yang sakit (paru atau ekstra paru), hasil pemeriksaan dahak secara mikroskipik langsung (BTA positif atau BTA negatif), riwayat pengobatan sebelumnya (baru atau sudah pernah diobati), tingkat keparahan penyakit (ringan atau berat). Pentingnya penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita dilakukan untuk menetapkan paduan OAT yang sesuai (Depkes, 1997).
a.       Klasifikasi penyakit penderita.
1)      Tuberkulosis paru (TB Paru)
TB Paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput pleura). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dapat dibagi atas TB Paru BTA positif dan TB Paru BTA negatif. TB Paru BTA positif yakni sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya positif, satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB Paru BTA negatif yakni pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis positif. TB Paru BTA negatif dan rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya yakni bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas dan atau keadaan umum penderita memburuk.

2)      Tuberkulosis ekstra paru.
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain. Tuberkulosis ekstra paru dibagi berdasarkan tingkat keparahannya yakni tuberkulosis ekstra paru ringan  (kelenjar limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang kecuali tulang belakang, sendi dan kelenjar adrenal) dan tuberkulosis ekstra paru berat (meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa duplex, tulang belakang, tuberkulosis usus, tuberkulosis saluran kencing dan alat kelamin).
b.      Tipe penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe penderita yaitu kasus baru (penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan), kambuh/relaps (penderita yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif), pindahan/transfer in (penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten  yang dituju, penderita pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah), setelah lalai/pengobatan setelah default/drop out (penderita yang sudah berobat paling kurang satu bulan dan berhenti dua bulan atau lebih kemudian datang kembali berobat), gagal (penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke lima atau lebih dan penderita dengan BTA negatif rontgen positif menjadi BTA positif pada akhir bulan kedua pengobatan) dan kasus kronis (penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2).
  1. Diagnosis.
Jenis-jenis pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan terhadap suspek penderita (Nadesul, 1996) adalah :
a.       Pemeriksaan fisik .
Pada tahap dini sulit diketahui, tanda-tanda infiltrat (redup, bronchial, rochi basah), pada pemeriksaan perkusi didapati hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara amforik, atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis, bila mengenai pleura dapat menyebabkan efusai pleura (perkusi memberikan suara pekak), tanda-tanda penarikan paru dan diafragma serta mediastinum, skret di saluran napas dan bronchi.
b.      Pemeriksaan radiologi (rontgen thoraks).
Pada tahap ini tampak gambaran bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas atau nercak nodular. Pada kavitas ganbar bayangan berupa cincin tunggal atau ganda. Pada kalsifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi,. Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian. Kelainan bilateral terutama di lapangan atas paru dan etrdapat bayangan milier.
c.       Bronchografi.
Merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronkhus atau kerusakan paru karena tuberkulosis.
d.      Laboratorium.
Darah (lekosit meninggi), Laju Endapan darah/LED meningkat, limfositosis. Sputum : pada kultur ditemukan BTA. Tes tuberkulin : mantoux tes dengan indurasi 10-15 mm).
e.       Spirometer.
Penurunan fungsi paru-paru; kavitas vital menurun.
f.       Teknik Polymerase Chain Reaction.
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi kuman meskipun hanya ada satu mikroorganisme dalam spesimen. Selain itu teknik ini dapat mendeteksi adanya resistensi.
g.      Becton Dickinson Diagnostic Instrumen System (BACTEC).
Deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh mikobakterium tuberkulosis.
h.      Enzhyme Linked Immunosorbent Assay (ELIA)
Deteksi respon humoral berupa proses antigen-antibody yang terjadi. Pelaksanaannya rumit dan antibody dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah.
i.        MYCODOT.
Deteksi antibody memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatau alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan ke dalam serum pasien. Bila terdapat antibody spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir berubah.
Diagnosis tuberkulosis pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila ditemukan sedikitnya dua dari tiga spesimen dahak Sewaktu Pagi Sewaktu (SPS) BTA hasilnya positif.
Apabila hanya satu spesimen yang positif, perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen dahak SPS ulang. Kalau hasil rontgen mendukung tuberkulosis, maka penderita didiagnosis sebagai penderita BTA positif, tetapi kalau hasil rontgen tidak mendukung tuberkulosis maka pemeriksaan dahak SPS diulangi. Jika fasilitas memungkinkan, dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti metode biakan.
Namun jika tiga spesimen dahak negatif, dapat diberikan antibiotik spektrum luas (seperti amoxisillin atau kotrimoksasol) dan bila tidak ada perubahan, sementara gejala klinis tetap mencurigakan tuberkulosis maka perlu diulangi pemeriksaan dahak SPS. Apabila hasilnya positif maka didiagnosis sebagai penderita tuberkulosis BTA positif, akan tetapi jika hasil pemeriksaan negatif, lakukan pemeriksaan foto rontgen dada untuk mendukung diagnosis tuberkulosis. Jika hasil rontgen mendukung tuberkulosis maka diagnosisnya adalah penderita tuberkulosis BTA negatif dan rontgen positif, bila hasil foto rontgen tidak mendukung maka penderita tersebut dinyatakan bukan tuberkulosis (Depkes, 2002).



Artikel Terkait..:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar