Minggu, 12 Agustus 2012

Hubungan Interpersonal Perawat


Hubungan interpersonal dalam arti luas adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi dan pada semua bidang kehidupan sehingga menimbulkan kebahagiaan. Dalam arti sempit adalah komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi kerja (work stuation) dan dalam organisasi kekaryaan (work organization) (Kelly dalam Widayatun, 1999).


1.  Aspek-aspek dalam hubungan interpersonal
     Dalam suatu organisasi antara pimpinan dengan pimpinan, antara satu karyawan dengan karyawan yang lain, antara buruh dengan majikannya saling memiliki kepentingan bersama. Maka diantara mereka terjadi saling ketergantungan. Adanya ketergantungan tersebut maka mereka akan saling memperhatikan kepentingan masing-masing dari sudut pandang kebersamaan dan mereka akan saling bekerjasama dengan baik sehingga kepentingan masing-masing pihak akan dapat terpenuhi (Davis dalam Kusjarwati, 2001).

     Hal ini sama dengan pendapat yang disampaikan      Ismani (2001), untuk melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan yang baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat seorang perawat profesional harus dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan tugasnya. Jelaslah bahwa hubungan interpersonal adalah hal yang sangat penting dalam situasi kerja (work stuation) dan dalam organisasi kekaryaan (work organization).
     Menurut Davis dan Yoder (dalam Kusjarwati, 2001) mengatakan bahwa aspek-aspek dalam hubungan interpersonal ada dua yaitu komunikasi dan partisipasi.
a.  Komunikasi
     Komunikasi adalah peristiwa sosial yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia lain yang berlangsung dalam kontak tatap muka dimana pesan-pesan mengalir melalui saluran-saluran yang bersifat antar manusia (Purwanto, 1988).
     Hubungan interpersonal yang baik merupakan hal yang paling penting dalam komunikasi interpersonal karena setiap kali melakukan komunikasi yang efektif bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan (content) tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal (relationship). Dengan semakin baiknya hubungan interpersonal semakin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, sehingga semakin efektif komunikasi yang berlangsung (Rahmat, 1993).
     Dalam berkomunikasi ditempat kerja ada beberapa aspek yang berperan (Rahmat, 1993) yaitu :
1)      Percaya (trust). Faktor percaya adalah merupakan faktor yang paling penting karena rasa percaya akan menyebabkan komunikasi yang terbuka, mengungkapkan pikiran dan perasaan sehingga terjalin hubungan yang akrab yang berlangsung secara mendalam. Ada tiga hal yang menumbuhkan sikap percaya yaitu menerima, empati, dan kejujuran.  Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa mengendalikan dan melihat manusia sebagai individu yang patut dihargai. Empati adalah pengungkapan diri kepada orang lain dan menghindari kepura-puraan. Kejujuran mempunyai makna tidak menutup-nutupi dan memperlihatkan apa adanya.
2) Dukungan (suportif). Biasanya yang tampak dari sikap ini adalah : (a) Deskribsi yaitu penyampaian perasaan tanpa menilai dan menerima mereka sebagai individu yang patut dihargai. (b) Orientasi masalah adalah mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah. (c) Spontanitas adalah sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang terpendam. (d) Persamaan adalah sikap memperlakukan orang lain secara horisontal dan demokratis. Dalam sikap persamaan kita tidak mempertegas perbedaan.
3) Empati. Komunikasi memerlukan adanya empati yang dimiliki oleh para pelakunya. Empati yang terjadi selama komunikasi berlangsung menjadikan para pelakunya mempunyai pemahaman yang sama mengenai perasaan masing-masing. Karena masing-masing pihak berusaha untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dengan mengunakan cara yang sama. 
4) Sikap terbuka. Karakteristik orang yang terbuka adalah sebagai berikut : (a) Menilai pesan secara obyektif, berdasarkan kenyataan yang logis. (b) berorientasi pada isi pembicaraan bukan siapa yang bicara. (c) Mencari informasi dari berbagai sumber. (d) Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercaayaan yang tidak sesuai. (e) Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya, maksudnya orang yang terbuka bersedia menghadapi perbedaan gagasan, dan mau dialog bersama sehingga tercapai suatu pengertian.

b.  Partisipasi
     Dalam Hubungan interpersonal pimpinan harus melibatkan karyawan untuk berpartisipasi terhadap pekerjaan sebab bawahan tidak akan memiliki motivasi yang tinggi bila mereka tidak diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai (Kusjarwati, 2001). Demikian juga dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien tidak akan mencapai tujuan yang optimal apabila dokter dan perawat tidak saling partisipasi dan bekerja sama.
     Hal ini sesuai dengan pendapat Mangkunegoro (2000), partisipasi merupakan keterlibatan mental dan emosional sesorang dalam situasi kelompok yang mendorong dirinya untuk memberikan sumbangan demi tercapainya tujuan kelompok serta bertanggung jawab didalamnya.
     Indikator-indikator yang digunakan untuk penilaian partisipasi adalah merasa dihargai, merasa ikut memiliki, dan merasa diikutsertakan. Dengan partisipasi karyawan (perawat) diharapkan bekerja dengan penuh semangat meskipun saat itu tidak ada pengawasan (Nitisemito, 1996).

2.  Hubungan kerja Perawat dalam praktik keperawatan
     Dalam melaksanakan tugasnya secara profesional perawat harus dapat bekerja sama dengan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan tugasnya untuk memberikan pelayanan yang baik pada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.
     Ismani (2001), menyampaikan hubungan kerja perawat dalam menjalankan praktiknya adalah :
a.  Hubungan kerja Perawat dengan pasien.
     Perawat mempunyai hak dan kuwajiban untuk melaksanakan asuhan keperawatan seoptimal mungkin dengan pendekatan bio, psiko, sosial dan spiritual sesuai kebutuhan pasien. Hubungan yang baik anatara perawat dan pasien  akan terjadi bila : (1) terdapat saling percaya. (2) Perawat benar-benar memahami hak-hak pasien. (3) Perawat harus sensitif terhadap perubahan-perubahan kondisi pasien akibat penyakit. (4) Perawat harus memahami keberadaan pasien sehingga sabar dan tetap mempertimbangkan etik dan moral. (5) bertanggung jawab dan bertanggung gugat. (6) Perawat harus dapat menghindari konflik dengan pasien dengan cara membina hubungan yang baik.

b.  Hubungan kerja Perawat dengan teman Sejawat.
     Sebagai anggota profesi keperawatan, perawat harus dapat bekerjasama dengan teman sejawat demi meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Perawat harus bisa membina hubungan baik dengan semua perawat dilingkungan kerjanya, Harus saling menghargai dan tenggang rasa yang tinggi. Perawat harus dapat memupuk rasa persaudaraan dengan silih asuh, silih asah dan silih asih.

c.  Hubungan kerja Perawat dengan profesi lain yang terkait.
     Dalam menjalankan tugasnya perawat tidak dapat bekerja tanpa berkolaborasi dengan profesi lain, misalnya dokter, ahli gizi tenaga laboratorium, tenaga radiologi dan sebagainya. Masalah-masalah yang muncul dalam keperawatan dengan melihat masalah keperawatan dan medis, perawat tidak akan exist bila bekerja sendiri tanpa profesi kesehatan lain, karena perawat bekerja lebih pada bidang perawatan dan keperawatannya namun pada kenyataannya lebih dari hal itu. Misalnya melaksanakan monitoring respon pasien atau monitoring komplikasi yang terjadi dari suatu treatment. Kegiatan yang dilakukan perawat tersebut adalah tindakan-tindakan kolaboratif dengan medis (dokter). Masalah-masalah yang dikaji secara bersama-sama disebut dengan masalah kolaborasi (Black & Jacobs, 1993).
     Menurut Carpenito mendifinisikan masalah kolaborasi sebagai komplikasi-komplikasi fisiologis yang terjadi akibat kondisi patofisiologis atau yang berhubungan dengan treatmen dan dari situasi-situasi yang lain. Jelas bahwa perawat tidak dapat menangani sesuatu yang diluar bidangnya atau secara mandiri, tetapi perawat harus bekerjasama dengan dokter dalam mencapai masalah masalah yang sifatnya kolaboratif (Black & Jacobs 1993).
     Praktik kolaborasi tumbuh dengan baik apabila perawat dan dokter belajar menggambarkan apa yang mereka pikirkan dan lakukan dalam bahasa yang mencerminkan penghargaan, artikulasinya jelas, dan memungkinkan perbedaan persepsi, dan menejemen sekian banyak aspek kompleks perawatan kesehatan (Siegler & whitney, 2000). Sedangkan menurut Baggs & Schmit mengatakan bahwa kolaborasi berpengaruh besar pada kordinasi perawatan, baik sebagai bentuk kerjasama atau cooperating treaonably. Sifat interaksi antara perawat dan dokter menentukan kualitas kolaborasi (Siegler & Whitney, 2000)
     ANA (dalam Siegler & Whitney, 2000), menjabarkan kolaborasi sebagai hubungan rekanan yang sejati dimana masing-masing pihak menghargai kekuasaan pihak lain, dengan mengenal dan menerima lingkup kegiatan dan tanggung jawab masing-masing yang terpisah maupun bersama, saling melindungi kepentingan masing-masing dan adanya tujuan bersama yang diketahui kedua pihak.
   Dalam menjalankan tugasnya, setiap profesi dituntut untuk mempertahankan kode etik profesi masing-masing. Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai maka hubungan kerjasama akan dapat terjalin dengan baik, walaupun dalam pelaksanaannya sering juga terjadi konflik-konflik etis (Ismani, 2001).
d.  Hubungan kerja Perawat dengan Institusi
Pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan akan dapat meningkatkan motivasi kerja tetapi bila pekerjaan yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginan dan kemampuan yang dimiliki akan menurunkan motivasi kerja yang menjurus terjadinya konflik antara nilai-nilai sebagai perawat dengan kebijakan institusi tempat bekerja. Bila terjadai penumpukan konflik nilai dalam pelaksanaan pekerjaan setiap hari akan menyebabkan : (1) buruknya komunikasi antara perawat dengan institusi. (2) Tumbuhnya sifat masa bodoh terhadap tugas dan tanggung jawabnya. (3) menurunnya kinerja.


Artikel Terkait..:

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar